Journey To Baitullah

Inilah memoar reflektif atau diari inspiratif bagaimana rasanya berkesempatan berkunjung ke Baitullah, menunaikan ibadah haji dan umrah, beserta segenap perjuangan, kegigihan dan kelezatannya. Sebuah “bacaan curhat” seorang wanita yang telah berhaji, yang begitu sempurna didera CINTA BAITULLAH.

SITI ROKHMI LESTARI, Penulis yang memberikan buku hariannya untuk menjadi gambaran bagi para calon jemaah haji. Dalam buku ini, kita diajak untuk mengikuti detik-detik perjalanan haji, dari mulai persiapan hingga kembali ke Indonesia. Disertai dengan peristiwa-peristiwa yang menakjubkan membuat buku ini menarik untuk dibaca.

UPGRADING WILAYAH FLP JAWA BARAT

Pangandaran, 16-18 Desemeber 2011

Kegiatan Upgrading Wilayah FLP Jabar berupa pembekalan materi dan diskusi seputar literasi, keorganisasian, dan ke-FLP-an sesuai dengan tema utama dan tujuan yang diusung: membangun tradisi membaca yang kuat di Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Jawa Barat.

Para narasumber yang dihadirkan: Setiawati Intan Savitri (Ketua Umum FLP 2009-2013), Rahmadiyanti Rusdi (Sekretaris Jendral FLP 2009-2013), Topik Mulyana (Divisi Kritik dan Karya FLP 2009-2013), M. Irfan Hidayatullah (Anggota Dewan Pertimbangan FLP 2009-2013).

Penyelenggara kegiatan ini adalah Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Jawa Barat dan BPP (Badan Pengurus Pusat) FLP. FLP Jabar merupakan salah satu dari 37 (tiga puluh tujuh) wilayah FLP yang telah didirikan di seluruh Indonesia dan juga di mancanegara. Sampai saat ini FLP Jabar menaungi 11 (sebelas) cabang FLP di kota-kota di Provinsi Jawa Barat sejak berdirinya pada 17 Agustus 2003. Sebagai organisasi nirlaba tempat berkumpulnya para (calon) penulis, FLP berkeinginan memberikan pencerahan kepada masyarakat luas melalui tulisan.***

LOMBA BACA PUISI KHUSUS UNTUK GURU Dengan Hadiah UMROH KE TANAH SUCI.

Penyelenggara : Komunitas Sastra Cianjur

Assalamualaikum,
Salam Sejahtera,
Setelah pengumuman pengunduran Lomba Baca Puisi Khusus untuk Guru TK/SD/SLB/SMP/ /SMA/SMK Se Indonesia, maka dengan ini kami umumkan bahwa Lomba Tersebut  akan dilaksanakan pada tanggal 24-25 Januari 2012 dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Lomba diperuntukkan untuk Guru TK/, SD/SLB, SMP/MTS dan SMA/SMK di seluruh Indonesia.
  2. Membawa kartu Identitas Guru atau surat keterangan dari instansi terkait.
  3. Menyerahkan uang pendaftaran Rp. 75.000,-
  4. Pendaftaran ditutup pada tanggal  23 Januari 2012 di Gedung Dewan Kesenian Cianjur. Jl. Suroso No 46 Cianjur 43214. Tlp (0263) 281028 atau via Kontak Pribadi 087820656384.  atau ke ke alamat email: KsastraCianjur@yahoo.com dan mengirim uang pendaftran Rp 75.000,- ke Rekening Komunitas Sastra Cianjur di Bank BJB (Bank Jabar dan Banten) No Rek: 0014980822100.
  5. Naskah Lomba disediakan oleh Panitia, Silakan Lihat di Catatan Facebook Komunitas Sastra Cianjur.
  6. Lomba diselenggarakan dalam 2 babak yaitu Babak Penyisihan dan Babak Final.
  7. Juri akan memilih 20 Finalis.
  8. Juri akan memilih Juara 1 (Juara Utama), Juara 2, Juara 3 dan Harapan 1, Harapan 2, dan Harapan 3.
  9. Juri terdiri dari para Professional di bidangnya, berasal dari Jakarta dan Bandung.
  10. Hadiah Lomba Berupa UMROH KE TANAH SUCI, Piala dan Piagam Juara 1 (Juara Utama), Uang Tunai, Piala dan Piagam bagi Juara 2, dan 3,. Piala dan Piagam bagi Juara Harapan 1, 2, dan 3 Piala dan Piagam.

Terima kasih.


Ketua
Komunitas Sastra Cianjur

Yusuf Gigan


Komunitas Sastra di Facebook KLIK DISINI

HIKAYAT PEMANEN KENTANG

Oleh : Arman Mulyadin

Yang memanah sekaligus memapah
mereka ke rumah,
bukan kompas pada peta kaku semata.
yang terus berputar, mengupas angka
menupas arah, lantas
tertiup angin tanpa beban
ialah pucuk-pucuk eru berjajaran.
memainkan likuan jalan,
menjatuhkan jarum-jarum penyubur keikhlasan
mengetuk dada penuh kesabaran.
(kutipan puisi hikayat pemanen kentang)

Dalam buku ini, Mugya Syahreza Santosa memberikan diksi dan bunyi yang intens. Disertai juga dengan beragam ornamen dan metafora-metafora yang mempesona.  Isinya lebih diarahkan ke hubungan antara manusia dengan alam. Membaca Hikayat Pemanen Kentang seperti menjelajahi perkebunan dan bertemu para petani, juga menghargai mereka dengan dikaitkannya antara tetumbuhan dengan “Racikan Hidup” . Dengan gaya bahasa yang ringan, Hikayat Pemanen Kentang ini memberikan kesejukan dalam membacanya

KREATIFITAS MENULIS


Oleh : Arman Mulyadin

Menjadi penulis tidak harus dari kalangan Pelajar atau Mahasiswa, Orang yang tidak tamat SD sekalipun sebenarnya bisa menulis. Tapi proses kreatif dalam penyampaiannyalah yang membedakan.

Karya tulis memang menuntut kreatifitas penulis dalam menyampaikan dan menuangkan gagasan. Yang mana bagaimana caranya agar pembaca bisa memahami dan mengerti dengan maksud dan tujuan dari apa yang ditulis.

Penulis juga haruslah kreatif dalam memilih judul dan tema agar menarik perhatian pembaca. Karena judul bisa diibaratkan organ tubuh yang paling penting. Kurang menariknya judul, membuat pembaca enggan untuk melanjutkan membaca.

Contoh,
Judul 1 : MAU KAYA HARUS KERJA
Judul 2 : TIDAK USAH KERJA KALAU MAU KAYA
Pada judul yang pertama, itu sudahlan merupakan sesuatu yang lumrah dan semua orang sudah tau tanpa harus dijelaskan. Pembaca pun akhirnya enggan melanjutkan membaca.

Untuk judul yang ke dua, itu sangatlah tidak mungkin bagi sebagian orang, tapi bagi otak kanan itu sangatlah mungkin. Lah kok ? bagaimana mungkin bisa Kaya kalau tidak bekerja ? Penasaran kan ? sama, saya juga penasaran...

Nah itulah yang dimaksud dengan kreatif, yang mana si pembaca merasa penasaran untuk membaca isinya.
Kemudian kreatifitas pemasaran, disini saya mengutip cerita Andreas Harefa. Sebelum menulis, perhatikan dahulu target pasarnya, semisal target kita adalah para pelaku bisnis Multi Level Marketing (MLM). Kita bisa langsung menawarkan dahulu berupa kerangka karangan ke perusahaan-perusahaan MLM sebelum kita tulis. Dan jelas, harus menarik perhatian supaya Client tertarik dengan apa yang akan kita tulis. dalam ceritanya Andreas Harefa terbukti berhasil dengan sistem ini, dengan menawarkannya kepada CNI, kemudian tertarik, lalu memesan dalam jumlah banyak sebelum terbit.

Jadi, Mari menulis kreatif.....

MENULIS DENGAN BERDARAH-DARAH


Oleh : Arman Mulyadin

Menjadi penulis terkenal menjadi dambaan sebagian orang, namun tidak sedikit dari mereka yang merasa ‘gagal’ kemudian berhenti menulis.

Saya akan menceritakan seorang tokoh yang menurut saya ‘sangat’ penting di dunia kepenulisan maupun sastra. Beliau aktif di Komite Sastra Dewan Kesenian Cianjur, dan Ketua di Komunitas Sastra Cianjur, beliau akrab disapa Kang Yusuf Gigan.

Pertama kali saya mengenal beliau ketika saya mengikuti Lomba Baca Puisi Islami Ramadhan yang diselenggarakan oleh Harimart (sekarang Cianjur Super Mall) Cianjur. Kang Yusuf menjadi juri pada acara tersebut. 

Sebelum acara dimulai, ada kesempatan bagi saya untuk menyapanya. Karena memang namanya sudah saya kenal lewat antologi puisinya berjudul Kidung Leluhur Cianjur. Disela waktu yang sempit, saya menyapanya dan sedikit bertanya jawab. Tidak lama kemudian, peserta lain datang bergabung ikut mengobrol. Disitu saya berkenalan dengan Khoer Jurzani, penyair yang sekarang mendapat Beasiswa kuliah di Sekolah Islam Al-Azhary Cianjur dan menjadi sahabat saya. Pertemuan dengan Khoer lah yang membuat saya mengenal Forum Lingkar Pena Cianjur.

Kang Yusuf kemudian mengundang saya dan Khoer untuk hadir pada pertemuan di Sanggar Sastra (Komunitas Sastra Cianjur) sekalian buka bersama, disitulah saya mulai bertemu dengan penulis-penulis muda berbakat asal Cianjur. Mereka rata-rata pelajar SMP dan SMA. Waaah.. antusiasme yang sangat luar biasa menurut saya. Dan satu hal yang menarik, Kang Yusuf tidak menerima bayaran sepeserpun dari  Sanggar yang dikelolanya.

Satu petikan yang selalu saya ingat adalah bahwa “menjadi penulis, haruslah berdarah-darah” berdarah-darah maksudnya berjuang dan selalu bersemangat. Semisal perbanyak membaca dan terus berlatih dan diasah terus menerus agar hasilnya bisa maksimal.

Terbukti berkat Sanggar yang di Kelolanya tercipta penyair-penyair muda dan pembaca puisi handal yang memenangkan sayembara-sayembara bergengsi.  Bahkan diantaranya menjadi duta pelajar untuk Indonesia dan menghadiri pertemuan-pertemuan dimancanegara.

Cara Membuat Judul Yang Baik

Galang Lufityanto (www.galang.biz)

Beberapa orang berpendapat bahwa membuat judul untuk sebuah karangan fiksi itu sulitnya bukan main, tetapi ada juga beberapa orang yang berpikir sebaliknya. Judul suatu karangan, sederhananya memiliki fungsi untuk merepresentasikan garis besar cerita, apa yang membedakannya dengan karangan yang lain. Judul karangan adalah taruhan bagi seorang pengarang. Judul karangannya yang menarik dan eye-catching namun tetap tidak norak, akan membuat pembaca tertarik untuk membaca keseluruhan cerita. Namun demikian, judul tidak melulu tentang bagaimana cara membuat pembaca tertarik untuk membaca cerita Anda. Judul harus benar-benar dapat memberi batasan kondisi “here and now” cerita Anda pada pembaca. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa judul juga berfungsi untuk menyetel “mental set” pembaca agar lebih siap dalam menikmati karangan Anda. Beberapa judul telah secara tidak langsung memberi tahu pembaca seperti apa karangan yang akan mereka baca, contohnya: “Misteri Pembunuhan Si Pendekar Kampus”, “Bangkit dari Kubur, “Cintapuccino”, dll.

Namun perlu diingat bahwa judul yang berlebihan malah akan dapat menjadi bumerang bagi Anda. Judul yang “too good too be true” bisa jadi membuat pembaca khawatir bahwa isi cerita di dalamnya tidak sedahsyat “aumannya”. Karena itu sebagai penulis, kita harus berhati-hati dalam menggarap judul. Judul yang kurang baik dapat membuat pembaca meninggalkan karangan kita sebelum sempat membaca paragraph pertama. Bagi penulis, itu adalah mimpi buruk.
 
Berikut ini adalah beberapa pertimbangan dalam membuat judul sebuah karangan.
(1) Cara termudah untuk membuat judul adalah, percaya atau tidak, dengan menampilkan setting di mana atau kapan cerita itu terjadi. Karena itu banyak dijumpai karangan berjudul, “Di Lereng Bukit…..”, “Di Pantai ….., “Kisah Sedih di Malam Minggu”, dll. Saya memandang cara itu sebagai cara yang paling “kurang kreatif” dalam membuat judul. Cara itu satu tingkat lebih tinggi dari kondisi putus asa dan khawatir jika tidak dapat membuat judul yang baik. Saya hanya akan melakukan cara itu jika benar-benar sudah mengalami kebuntuan, dan agaknya semua cara yang saya lakukan untuk membuat judul yang lebih baik, gagal. Cara itu bisa berhasil baik untuk pembaca yang kebetulan punya ikatan dengan tempat atau waktu seperti yang ditampilkan di cerita itu. Namun tetap dilihat dari sisi teknik penyusunannya, saya tidak merekomendasikan cara itu. Terkadang beberapa penulis cerdik memanfaatkan tehnik ini dan dapat berhasil. Caranya adalah mengaitkan judul dengan setting yang memiliki nilai emosional tersendiri, contoh: peristiwa gempa bumi di Yogya, tsunami di Aceh, penaklukan puncak himalaya, dll. Saran saya adalah, jika Anda memang ditempatkan pada kondisi yang mengharuskan Anda menggunakan metode ini, pilihlah secara cermat setting yang ingin Anda tampilkan sebagai judul. Jangan sampai pembaca merasa bahwa setting di judul ini hanya sekedar tempelan, dan tak punya nilai urgensitas.
 
(2) Cara terburuk lainnya untuk membuat judul adalah dengan menggambarkan dengan jelas sekali cerita Anda kepada pembaca, sehingga tanpa membaca cerita Anda pun, pembaca sudah bisa menebak akan ke mana cerita ini berakhir. Judul-judul senada : ”Tragedi....”, “Karma”, “Suatu Hari yang Sedih di….”, ”Kemalangan....”, sebaiknya tidak perlu sering-sering dipakai. Namun demikian saya tidak memungkiri ada beberapa penulis yang punya nyali untuk membuat judul ”Pembunuhan......” dan karangannya itu meledak di pasaran. Pada paragraf pertama, pembaca sudah disodori akhir cerita itu, yaitu meninggalnya ”Mr.....”. Namun demikian uniknya cerita itu mampu menggiring pembaca untuk sedikit demi sedikit membuka rahasia di balik kematian si tokoh di cerita itu. Cara itu adalah metode yang jenius, namun demikian tidak semua orang bisa melakukannya. Jika Anda tidak cukup percaya diri untuk melakukannya, cobalah cara yang biasa saja.
 
(3) Banyak penulis yang berkonsentrasi pada rima judul yang mereka buat. Itu adalah suatu pertimbangan yang bagus, karena perpaduan bunyi yang bagus biasanya dapat menggelitik pembaca. Pembaca akan berpikir bahwa penulis yang menciptakannya pastilah seorang yang kreatif. Ini sudah cukup dijadikan jaminan bahwa cerita yang dihasilkannya pun tentu bagus.
 
(4) Kita harus menyadari bahwa kadang kalimat yang pendek lebih efektif dan memiliki kesan lebih kuat daripada kalimat panjang yang bertele-tele. Coba saja, adakah kata makian yang terdiri dari kalimat yang panjang? Biasanya mereka malah terdiri dari dua suku kata saja.Namun demikian, jika Anda terpaksa harus membuat judul yang panjang, yakinkan bahwa Anda telah mencoba membacanya dengan keras dan juga menunjukkannya pada teman Anda,bahwa judul Anda tidak akan dipersepsikan lain. Panjangnya judul ini bisa disiasati dengan mensinkronkan bunyinya. Contohnya adalah salah satu karangan yang berjudul : ”Kutunggu
Datangmu Hanya Untukku”
 
(5) Salah satu cara kreatif dalam membuat judul adalah memunculkan suatu kontradiksi. Ini dilakukan dengan cara memuat dua atau lebih unsur yang bertolak belakang, misalnya ”You Love Me, You Love Me Not”. Dengan cara ini pembaca biasanya akan menjadi penasaran dan selanjutnya membaca karangan Anda untuk menemukan hubungan tersebut.